Tampilkan postingan dengan label galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label galau. Tampilkan semua postingan

Bingung

Bagusan mana ya, wisuda periode I di bulan Agustus ini, tapi ga dapet predikat lulusan terbaik (IPK gue tertinggi ke dua di angkatan gue karena gue kan emang selalu ga beruntung, baca post-post sebelumnya -__-), atau gue wisuda periode II di bulan Desember dengan predikat lulusan terbaik dan bisa ngospek brondong-brondong unyue lagi?

Note : Agustus sampe Desember gue juga belum tentu bakalan dapet kerja.
Bagusan mana yaa... Anjir galau gue!

Oke, postingan ga penting. Ahaha

Galau Itu...

Beberapa hari yang lalu saya chat dengan seorang teman, sebut saja namanya Atri (emang namanya itu -_-), teman saya itu mempermasalahkan status-status facebook saya yang kelihatan galau. Haha. Kurang lebih percakapan kami seperti ini :
Atri : Uni, kenapa sih status-statusnya galau gitu? Ntar orang mikirnya uni masi ngasi-ngasi kode dan ngarep..
Saya : Hah, gitu ya? Itu kan cuma terlintas gitu aja, no hard feeling ah. Permainan kata-kata doang makanya jadi terkesan drama..
Atri : Iya sih un, tapi tetep aja kan..

Malamnya ketika saya lagi bergosip dengan sepupu saya, pembicaraan jadi berubah topik ke ucapan terima  kasih di Kata Pengantar pada Tugas Akhir.
Saya : Dan momen yang paling jleb itu, ketika aku mengedit Kata Pengantar di Proposal TA untuk dijadiin Kata Pengantar TA, dan dengan berat hati 'harus' menghapus nama dia..

Lalu kemarin ditengah kesibukan saya menggunting dan mengelem kertas untuk pertunjukan robot di acara kampus, saya berbincang dengan Beni,
Beni : Kak Put, statusnya galau trus.. Jadilah kak Put, untuk apa galau.. Disini ada beberapa yang siap memberikan cintanya pada kak Put..
Saya : Err.. Gitu? Hahaha. Padahal aku kalo bikin status kadang pas lagi sama temen-temen, cuma status yang spontan kepikir aja -__-a
Beni : Ohh..

Kemudian saya jadi kepikiran ngetik post ini. Hehe

Hari ini, pas 4 minggu saya menyandang status sendirian alias single alias jomblo. Hmm saya bete kalo dibilang 'jomblo' gara-gara jokes macam : "Tidur mblo, udah malem. Ga ada yang ingetin ya? Jomblo sih..", dkk itu -_-. Sebelumnya saya jadian selama 2 tahun 7 bulan. Rekor terlama dalam sejarah perpacaran saya, hehe. Tadinya saya berpikir kalo hubungan ini akan bertahan lama karena deep inside my heart saya punya kepercayaan diri yang cukup besar bahwa saya adalah tipe orang yang sukses membawa hubungan untuk jangka panjang. Tapi ya kenyataan berkata lain, 2 tahun 7 bulan adalah waktu yang cukup lama untuk saling mengenal dan menyesuaikan, yang sayang semua itu harus berakhir pahit.

Lalu mulailah fase-fase galau, mulai dari update status, nulis notes, nulis blog (kebanyakan disimpan di draft), nangis seharian penuh, pokoknya keadaan saya begitu KACAU. #nowplaying Meggy Z- Sakit Gigi

Apa yang saya lakukan ketika putus cinta?

Belajar dari masa lalu, saya berusaha untuk meminimalisir tingkat kepayahan saya dalam move on yang sampe bertahun-tahun tidak bisa-bisa. Tapi ternyata sekuat apapun saya berusaha, tetap aja susah! Jujur, rasanya beraat banget. Beberapa hari pasca putus, saya terbangun dengan mata sembab karena kebanyakan menangis, bahkan dalam mimpi. Mengecek hp, seolah-olah akan ada sapaan hangat seperti biasanya, kemudian terpaksa menelan kecewa. Rasanya hari-hari ga akan lagi sama, ada sesuatu yang hilang.. Separuh jiwaku pergi hahaha *kemudian nyanyi Anang. Saya linglung ga jelas, kesana kemari ga ada tujuan, semuanya demi usaha untuk melupakan sakit hati saya dan supaya tidak menangis karena saya ini cengeng banget.

Berikut yang pernah saya lakukan ketika putus :
1. Masih berusaha menghubungi dia dan memberitahu dengan kode bahwa saya masih sayang dia
2. Menegaskan pada dunia bahwa dia adalah mantan saya dengan ngeadd teman-temannya dan menanyakan kabarnya
3. Menghapus semua foto-foto saya dan dia, semua percakapan yang masih tersisa di jejaring sosial, dan menyembunyikan dari pandangan saya benda-benda yang pernah diberikan olehnya
4. Potong rambut sependek mungkin.

Dan ternyata cara seperti itu salah banget, karena bukannya ngelupain yang ada saya malah semakin galau karena semua tentangnya mendadak hilang, haha. Kemudian saya mencoba cara berikut:
1. Tidak terburu-buru menghilangkan memori tentang dia. Percakapan-percakapan, sms-sms, foto-foto, semuanya saya sembunyikan dalam satu folder. Foto-foto yang terpajang di kamar masih ada beberapa yang belum saya lepas, bahkan password beberapa gadget dan akun saya masih menggunakan nama atau tanggal jadian, haha.Selow lah, tidak semuanya harus dilakukan dengan instan.
2. Berusaha menikmati perubahan dengan tidak mendadak menghilang walaupun sebenarnya rasanya sakit
3. Menyibukkan diri dengan kegiatan kampus, untungnya saya bergabung di BEM dan sibuk-sibuknya menyiapkan acara dies natalis kampus
4. Ini mungkin agak aneh, ketika saya mulai begitu kangen dengan kebiasaan yang mulai hilang, saya mengetik sms dan mengirimkannya ke nomor dia yang sudah tidak aktif lagi. At least rasanya agak lega.

Dua minggu pertama saya berhasil melewatinya. Saya bahkan kaget dengan kemajuan saya, ini sungguh diluar harapan. Saya berhasil menghilangkan sakit hati dan bahkan memaafkan dengan tulus. Saya mulai menata hidup kembali dan toh saya masih gemuk2 dan happy-happy  saja hahaha. Tapi kemudian saya rasa ini tidak wajar, masa sih saya secepat ini bisa ikhlas, menerima, melupakan, dan memaafkan masalah ini?

Ketakutan saya menjadi nyata beberapa hari yang lalu. Saya tidak tahu apakah ini faktor PMS atau bukan. Saya jadi mendadak memikirkan dia, dan diri saya sendiri. Saya jadi ga habis pikir dengan saya beberapa minggu yang lalu, yang menerima tanpa ada perlawanan dan dendam, saya jadi punya teori bahwa kemarin-kemarin itu saya sibuk nyembuhin luka di hati saya, pas luka itu perlahan-lahan mulai sembuh, baru muncul sakit hati -__-a. Lalu saya bilang sama Fitri, "Kenapa ya aku 'dapet'nya baru sekarang, kenapa ga kemarin-kemarin aja sehingga aku bisa ngedamprat dia dan maki-maki dia sehingga aku bisa puas dan ga ada rasa sakit lagi ya?", hehe. Fitri bilang, "Mungkin karena saat itu kamu lagi ngerasa gagal.."

Ah iya, saya mulai bisa mencerna. Ketika saya putus dengan seseorang, saya terlalu sibuk mencari kesalahan saya, saya begitu frustasinya karena saya gagal menjadi cewek yang baik untuk pacar saya, terlepas dari siapa yang mutusin siapa. Saya sibuk menyalahkan diri saya yang gagal, dan ketika saya mulai kehabisan alasan, akal sehat saya mulai muncul lagi dan akibatnya justru saya pengen teriak bilang betapa jahatnya dia.

Semoga ini cuma efek sementara lagi dapet, karena toh antara saya dan dia tetap baik-baik saja. Yang berperang itu cuma insidenya doang, hehe.

Oh iya sebenarnya kata-kata "Let it flow" itu bener juga loh. Jangan terpaku pada tips, lakukanlah sebisa kita kemana cerita kita mau dibawa. Dan kalo sampe saat ini saya masih menulis yang sedih-sedih dan bercerita tentang perasaan ataupun kenangan saya dengan 'dia', saya rasa itu wajar, mana mungkin sih kita bisa begitu mudah melupakan orang yang bersama kita bertahun-tahun hanya dalam hitungan hari? Atau apa saya doang yang kayak gitu. Tapi saya kan bukan tipe manusia instant yang begitu putus langsung cari yang baru, hehe.

Oh iya (lagi), saya tetap melakukan ritual saya. Potong rambut sependek mungkin, dan sekarang rambut saya pendek loh, ahahaha.

Untitled.

Bahkan ketika kamu menusukkan belati padaku, aku akan memelukmu erat. Erat sekali, agar kamu tahu ini sesak.

... dan akan kubantu lesakkan belatimu ke ulu hatiku dengan pelukan agar kamu tak merasa bersalah telah menikamku.


-dedo-

I Cant, I Just... Cant!

Sudah 107 pesan :')

Sama seperti sebelumnya, pada akhirnya cuma berakhir di draft
*ngenes

Firasat

Firasat ini...
Rasa rindukah atau tanda bahaya?

Packing..

Ahh, ini kardus terakhirku
Aku rasa aku sudah siap


untuk pergi,
atau tetap tinggal

....... Just ask :)


Much  Love

Putri

Gajebo

Seharusnya dalam mengambil suatu keputusan, saya harus mempertimbangkan baik-baik untung ruginya. Semua pilihan mengandung resiko, dan mau tak mau saya harus bisa bersikap gentle menghadapi resiko itu.

Seharusnya begitu ya.

Ini pilihan saya. Saya yang akan mempertanggungjawabkan apa yang saya pilih.

Masalahnya, terkadang saya terlalu sok tahu. Saya terlalu yakin pada kesan yang saya ciptakan sendiri, padahal 'kesan' itu hanya sebuah harapan dari hati kecil saya
Masalahnya, saya selalu menutup mata karena takut kalo kenyataan yang saya lihat berbeda dengan apa yang saya sugestikan di pikiran saya.
Masalahnya, saya ini pengecut. Meskipun sudah mengambil suatu keputusan, saya tidak berani menghadapi resikonya.
Masalahnya, saya sudah memprediksikan kemungkinan buruk apa yang terjadi tapi saya tetap ngotot memanipulasi pikiran saya untuk bisa menerima semuanya.

Lagi-lagi berteori dan berandai-andai.

Ahh Putri, kamu ini bodoh dan payah sekali. T______T

Defense Mechanism


“Mungkin itu ya,” kata Ina. “Ketika lo ngerasa disia-siain sedemikian rupa, lo jadi ngerasa semacam punya defense mechanism. Lo akhirnya nyadar.”

“Yah,” kata gue. “Lo tau sendiri, kalo lo udah pecah berkeping-keping, gimana caranya lo bisa ngerasain apa-apa lagi?”

“Bener banget. Kayak gitu rasanya.”


(Marmut Merah Jambu by Raditya Dika, halaman 87)

Frustasi!

Mereka bilang saya kejam, saya tidak punya perasaan. Mereka menuntut saya untuk tidak seharusnya bersikap kayak gini. Saya disalahkan. Tapi saya mengerti, karena kan semua hal mempunyai dua sisi. Relatif. Belum tentu ketika satu orang menyebutkan kita begini begini, orang lain akan setuju juga kita kayak gitu.

Saya seratus persen menyadari ini. Ada beberapa hal yang memang tidak sejelas kelihatannya bukan? Kebanyakan orang ngejudge berdasarkan apa yang mereka lihat, tidak dengan apa yang mereka rasa. Dan ini subjektif.

Everything's happen for a reason. Like I did. Dan andai saja mereka tau dan memahami alasan saya, mungkin mereka akan diam dan mendukung saya. Tapi tidak, lebih baik tidak seperti itu. Ngapain juga saya bercerita sesuatu yang tidak seharusnya mereka dengar?

Buat saya lebih baik begini. Buat mereka entahlah. Saya ingin bersikap egois untuk kali ini saja.

--------------------------------------------------------------------------------------

Ahh, tapi kadang merasa frustasi juga menyibukkan dan melelahkan diri memikirkan hal-hal seperti ini. Padahal seharusnya tidak dipikirkan, tapi tetap aja kebayang-bayang. Hehehe

Soulless Doll *)


source

Hello Dream, are you dying?
After all is it THAT impossible to walk together hand in hand?
Hello Hope, are you leaving me alone?
Is it really hard to bear looking at me knowing that this won't work?
Hello Life, are you okay with that?
Letting me lost my purpose is there even a meaning of being alive?
Soulless doll, am I going to be that again?
After I finally know how great to be alive, do I really have to return at that state?
Well then, let me struggle at least.
If I lost, soulless doll then I shall be.



*) Credit to my bestie, Cincaah. This is her facebook status about 9 hours ago, serasa pas dengan keadaan saya sekarang. :')

Udah Ga Ada Greget Nih Kuliah -_-

Ini cerita beberapa minggu sampai satu minggu lalu. Musim ujian. Ketika orang-orang mulai sibuk memfotokopi bahan dan catatan teman, sebagian kecil komat kamit menghafal materi, sebagian besar membuat kepe'an (istilah 'contekan' di Bengkulu), dan latihan-latihan di notebook untuk memantapkan desain/coding.

Dulu gue termasuk sebagian kecil itu. Menghafal materi ketika mau ujian dan aktif di kelas menjawab pertanyaan dosen, dan rajin obrak abrik codingan untuk nemuin fungsi yang ini buat apa yang itu buat apa. Tujuannya? Supaya tambah pinter dan dapat nilai bagus tentunya. Tapi gue sadar, ngedapetin nilai bagus  ternyata nggak sesusah itu disini. Di kelas gue, paling cuma 15% yang ga bikin contekan, itu juga karena mereka nyontek ke orang yang bikin contekan. Ngeselin ketika ngeliat mereka yang minus usaha tapi nilainya justru lebih tinggi, atau ketika si dosen cenderung subjektif ngasih nilai (misal, karena si ini mukanya muka orang pinter, atau karena si ini jadi komti, jadi nilainya otomatis A dan akibatnya komti kelas gue jadi bahan sirik2an anak2 termasuk gue, karena 2 semester belakangan nilainya melesat naik bahkan lebih tinggi dari gue -__-).

Gue orang yang kebanyakan ga beruntungnya. Nggak tau ya kenapa. Lihat di post2 terdahulu, banyak contohnya. Apalagi soal nilai ini. Kebanyakan gue dikasih B dan gue ga nemu alasan yang masuk akal kenapa gue bisa dikasih B. Mungkin style muka gue ga mendukung, atau mungkin karena nama gue terlalu invisible buat dosen2. Gue berpikir kalo gue ini naif. Jadi gue mulai males belajar dan megang buku. Gue mulai ga peduli jadwal kuliah dan jadwal ujian. Gue berhenti ngobrak-abrik codingan. Gue berhenti antusias terhadap rencana TA gue (yang berulang kali ditanyain oleh cincaah). Gue kecewa karena suasana persaingan di kelas yang gue harapkan tuh ga kayak gini. Gue bahkan ikutan bikin contekan tiap ujian. Ngapain susah2 kalo ternyata ngedapetin nilai ga seribet yang ada dipikiran gue? Fine, sekarang kita sama loh teman-temaan *peluk satu-satu.

"Enak yah kalo tiap ujian kayak gini, kenapa ga dari dulu coba", gitu yang ada di pikiran gue. Tapi belakangan gue mulai ngerasa kalo gue mengalami kemunduran otak. Hahaha serius loh. Gue ngerasa tambah bego aja gitu. Dua ujian praktik gue yang terakhir kacau balau, padahal jawabannya so simple, tapi guenya malah ngeribet2in diri sendiri (I guess, nilai gue paling tinggi di kedua praktik itu kayaknya 60 :D ). Kecewa banget, tapi gue tetep (berusaha) happy. Karena gue mulai sadar, emang gue pantes nerima itu. Harusnya gue belajar dulu sebelum ujian, bukannya sok pinter gini padahal ga ngerti. Apa bedanya gue sama teman-teman yang sering gue cibir itu? Yang ada malah mereka lebih sukses dalam ujian itu karena mereka belajar. Yeah emang cuma dua ujian, tapi gue udah keburu down. Ahh gue cuma pengen berbeda. Gue ga mau jadi mayoritas di kelas ini. Tapi sekarang malah gue termasuk mayoritas, huhuhuu cediih..

Penyesalan emang selalu datang terlambat. Ketika ngeliat orang2 yang yudisium kemarin pada bawa piala dan plakat lulusan terbaik, gue jadi ikutan mupeng. Gue jadi ingat tujuan awal gue kuliah, gue pengen bikin senang ortu gue dengan predikat lulusan terbaik dan berpikir kalo anaknya masih sepinter yang dulu walaupun dalam perjalanan hidupnya kebanyakan ngambil keputusan yang salah *hihi dramatis abis. Tapi kayaknya gue ga berhasil. Selamat tinggal deh predikat lulusan terbaik 2013. Hahaha udah down duluan karena secara logika IPK udah terkalahkan :'(

Silence is Better

Tak perlu berteriak jika hanya ingin didengar. Karena terkadang, cara terbaik untuk didengar adalah dengan tetap diam.
Nice share @pepatah :)

Hukum Gerak Newton

Gaya aksi dan reaksi dari dua benda memiliki besar yang sama, dengan arah terbalik, dan segaris. Artinya jika ada benda A yang memberi gaya sebesar F pada benda B, maka benda B akan memberi gaya sebesar –F kepada benda A. F dan –F memiliki besar yang sama namun arahnya berbeda. 
Ini adalah hukum ketiga Newton. Aksi-Reaksi.

Gaya sendiri merupakan interaksi dua benda, misalnya antara tangan dengan meja. Ketika kita menekan suatu benda, katakanlah meja, pasti tangan kita akan sakit. Kenapa? Karena meja juga akan memberikan gaya sebesar yang tangan kita berikan, tapi dengan arah berlawanan.

Ini bukan sekedar cerita Fisika kelas 2 SMP. Hukum Newton ini sesuai dengan kehidupan kita. Semua yang terjadi, pasti ada alasannya. Istilahnya tak mungkin ada asap kalau tak ada api. Hanya saja kadang alasan tersebut terlalu samar dan tidak sepenuhnya bisa diungkapkan sehingga salah satu pihak menilai kalau "ini adalah aksi tanpa reaksi", atau "ini adalah reaksi tanpa aksi".

Ketika kita memberi, suatu saat kita akan menerima. Ketika kita mencintai, maka kita akan dicintai. Ketika kita menyakiti, bersiaplah untuk disakiti. Ketika kita menghargai, maka kita akan dihargai. Semua yang kita lakukan pasti ada balasannya. Semua yang kita dapatkan pasti ada alasannya. Cepat atau lambat kita akan mengetahuinya.

Ini bukan hukum karma.
Ini adalah hukum aksi-reaksi.

!!!!!!

GUE BENCI HARI INI!!!
GUE BENCI OKTOBER!!!
BAHKAN ULANG TAHUN GUE SENDIRI GUE JUGA BENCI!!!

WOI TANGGAL TANGGAL YANG GUE PIKIR PENTING, BERANTEM AJA LO SAMA GUE NGGAL! *gila

Hate That I Love You :')


I hate it
You know exactly what to do
So that I can’t stay mad at you
For too long, that’s wrong

And I hate how much I love you, boy
I can’t stand how much I need you
And I hate how much I love you, boy
But I just can’t let you go
And I hate that I love you so

And you completely know the power that you have
The only one that makes me laugh
Sad and it’s not fair how you take advantage of the fact
That I love you beyond the reason why
And it just ain’t right

... Maybe one of these days, maybe your magic won’t affect me *sigh



p.s :
song by Rihanna - Hate That I Love You

From Me... To Me :)

*edited post*

Hari ini saya ingin menulis sesuatu, dari saya di tahun ini, untuk saya di tahun depan, pada bulan yang sama. Kenapa harus oktober? Ga ada alasan khusus sebenarnya, cuma saya rasa awal bulan merupakan awal yang bagus untuk memulai suatu perubahan. Sudah sangat terlambat, tapi ya sudah daripada tidak sama sekali. Oke saya mulai aja ya..

Untuk saya di bulan Oktober 2013 :)

Halo putrii.. Sehat? Ngospek lagi dong tahun ini.. HIMAMI gimana, berjalan baik? Bisa dong membimbing adik-adiknya aktif di organisasi.. Bagaimana dengan LTA kamu? Tuntas dong ya.. Dan bagaimana juga dengan rencana proyek LTA untuk teman-teman kamu? Semoga saja kamu mendapat "klien" dan bayaran yang cukup pantas, kan bisa nambah-nambahin kuliah S1 kamu nanti. Jangan ngerepotin orang tua, duit lebaran alokasiin buat S1 juga deh.

Eh tunggu tunggu, kamu jadi kan ambil S1 tahun ini? Semoga jadi ya.. Saya tahu kamu sebel banget karena kampus ini wisudanya cuma sekali, itupun akhir tahun, kamu pasti bosen banget ya berbulan-bulan di rumah mulu. Atau kamu ada kesibukan? Wisuda kan udah makin dekat. Kamu udah harus ngambil keputusan loh! Galau trus nih.. Tapi yaa wajar sih kamu galau, siapa juga yang ga galau liat kemampuan kamu ga berkembang gitu, umur udah makin tua, kerjaan ga dapet, IPK ga sesuai banget sama kemampuan. Haha *ketawa miris. 

Oh iya, kamu bener-bener udah bisa nerima diri kamu sekarang kan? Kamu bangga kan jadi diri kamu sekarang? Udah beneran move on kan dari galau2 penyesalan akibat kebodohan2 kamu beberapa tahun belakangan? Jawab jujur ya..  :D

p.s :
Jangan lupa diet, ingat tangan dan perut makin gede. Kan mau pake kebaya, ga lucu ah pake korset-korsetan, ntar jadi ga bisa napas haha. 

Galau Itu Masih Ada


Duo Princess of The Dark, Putri dan Fitri. Dengan porsi Fitri sedikit lebih banyak -__-
Kadang pengen juga kayak Nova, heppiii aja kayaknya (ga tau deng dalemnya gimana, apa juga make topeng like cincaah and me did).

Salah satu masalahnya adalah kuliah. Sebenarnya gue ga gitu menyesali lagi kenapa gue bisa terdampar disini, percuma aja kan kalo dibahas2, at least disinilah gue bisa ketemu farbie, ketemu teman-teman yang "aneh" menurut versi gue, bisa belajar menerima kalo ga semua orang punya pemikiran kayak gue, sekarang ini gue cuma sedikit nyesel kenapa gue ga manfaatin kesempatan-kesempatan jadi "mahasiswa" normal lainnya dan memutuskan untuk jadi anti sosial selama disini. Mungkin cc benar, salah satu masalah gue sering down adalah karena gue kebanyakan di rumah. Semakin lama gue stay di rumah, gue makin ngerasa sangat useless didepan orang tua dan keluarga gue. Dan seharusnya, gue bisa nyari kesempatan dengan banyaknya waktu. Tapi gue malah stuck aja dan milih buat tidur. Buang-buang umur dan kesempatan.

Ahh sia-sia mensugesti
Hati dan otak tetap saja saling benci
Hati ingin lari
Tapi otak tetap kosong, berdiam
Tanpa aksi
Mungkin ada
Tapi rasanya percuma
Tidak menyalahkan siapa-siapa, atau apa-apa
Ini lebih ke saya saja

Dan yahh, siapa saya yang berani2nya menantang langit di luar sana?

#justhinking

"Jangan kebanyakan makan cabe, nanti sakit perut.."

"Jangan kebanyakan ketawa, nanti mendadak ada yang bikin nangis.."

"Jangan kebanyakan nonton, nanti matanya rusak.."

"Jangan kebanyakan berharap, nanti kecewa.."

"Jangan kebanyakan ngomong, nanti salah-salah.."

"Jangan kebanyakan ngasih hati, nanti susah sendiri.."

Dan seterusnya.
"Because that too much, can hurt you so much.."

Banyak memang enak. Tapi kalo udah kebanyakan, sangat-sangat ga enak. Ujung-ujungnya malah kita yang sakit sendiri. Jangan royal deh intinya. Haha

Jangan Doktrin Aku Lagi!


Kamu bangun tidur dan melihatnya di sudut kamarmu, menertawakanmu yang terpaku karena baru saja memimpikan dia.

Kamu keluar rumah, berjalan tanpa arah. Dia datang, dan mulai menari-nari di kepalamu, berbisik mengajakmu berdialog. Tapi tentu saja itu hanya dalam otakmu.

Lalu kamu duduk di kelas, menatap dosen yang sibuk mengoceh, tapi pikiranmu berlari entah kemana, dan tanganmu hanya bisa mengukir namanya di kertas bindermu.

Siapa dia?

Dia adalah seseorang yang ingin sekali kamu bunuh.
Dia telah menghantui hidupmu, semua aktivitas dan gerak-gerikmu, bahkan seolah menjelma jadi dirimu dan menyatu dalam identitasmu.
Dia adalah orang yang memaksamu mengibarkan bendera kuning dan memakai baju hitam setiap hari. Dia membuatmu mencintai kematian serta lagu-lagu penuh amarah dan dendam.
Dia adalah parasit, benalu, duri, racun, dan bangkai dalam dirimu.
Sudah beribu kali, oh tidak, berjuta kali kamu mencoba melepaskan bayangannya, mengikuti semua tips yang kamu dapat dari majalah, mencari2 kesibukan. Tapi sia-sia, dia selalu ada dimana-mana, menggantikan setiap kata yang kamu ucap, mengambil alih kendali otakmu sampai2 kamu berhenti belajar, bekerja, dan berpikir jernih.
Yang kamu pikirkan hanya dia. Selalu dia. Apalagi bila malam tiba, kamu akan menangis sendiri, membuat hujan dan membanjiri kamarmu. Semua karena dia.

Nah, sekarang lihatlah. Betapa kurang ajarnya dia. Karena dia lah mereka memandangmu aneh, kamu seperti mayat hidup.
Kamu harus melakukan sesuatu, Kawan!

Lalu kamu mengambil sebuah pisau dan mulai mengiris pergelangan tanganmu. Dia menatapmu ngeri. Kemudian memohon-mohon kepadamu supaya berhenti melakukan itu.
Haha, jangan dengarkan dia, Kawan! Sedikit lagi kau akan tau, hanya dengan cara ini dia bisa menyesali diri telah meninggalkanmu

---

"Karena pertemuan itu tak seharusnya terjadi
Ia telah membuat kenangan mengkhianatiku
Dan kini kenangan itu mencoba membunuhku dengan keji, dengan perlahan, agar dia puas melihatku sakit
Ya, aku memang sakit. Tapi aku belum mati!
Aku tidak akan menyerah
Sekarang aku boleh kalah, tapi liat saja nanti
Kamu tidak akan selamat dari belatiku
Akan kucungkili kedua bola matamu
Akan kucincang-cincang hatimu
Akan kujilati setiap tetesan darahmu, agar kamu tau apa rasanya sakit.
Acaraku belum selesai, kawan!
Dengar, aku akan terus mencarimu
Menghantui hidup dan semua gerak-gerikmu
Menjejali otakmu dengan doktrin2 sampah yang pernah dan masih memenuhi pikiranku
Tapi sebelumnya, pinjamkan aku ketidakpedulian dan semua arogansimu
Aku butuh modal untuk menghabisi semua kenangan itu, sebelum aku membunuhmu!"


Bengkulu, 19 Februari 2010

*iseng ngebuka notes notes jaman dulu di fb dan nemuin notes desperate gue ini. Ternyata kalo dibaca-baca ulang dark banget ya tulisannya, persis banget kayak idup gue dulu -__-

Maybe

Because some things are better left unsaid :)
Back to Top